MAKALAH
HADITS TARBIYAH
UNSUR UNSUR PENDIDIKAN
Dosen pengapu MURZAL,
M.Ag
OLEH
KELOMPOK: I
NURJANAH (151139170)
RUDI MURSIDIN (151139172)
FARHANI (151139173)
TASYA NISOBA (151139174)
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM
MATARAM
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah
SWT, atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah
yang berjudul “UNSUR UNSUR PENDIDIKAN’’. Dalam rangka meyelesaikan tugas klompok I dalam mata kuliyah Hadis Tarbiah.
Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terimakasih dan semoga allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat bagi kami selaku penulis,dan bagi pembaca , amin yarabbal alamin.
Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terimakasih dan semoga allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat bagi kami selaku penulis,dan bagi pembaca , amin yarabbal alamin.
Mataram, 10 ktober 2013
Penulis.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .......................................................................................................
DAFTAR ISI .......................................................................................................................
BAB 1 PENDALUAN ........................................................................................................
1.
Latar
Belakang............................................................ ..............................................
2.
Rumusan masaah......................................................................................................
3.
Tujuan .......................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................................
UNSUR UNSUR PENDIDIKAN.........................................................
A– Subjek yang dibimbing (peserta didik) .....................................................................
B– Orang yang membimbing (pendidik).........................................................................
C– Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi
edukatif).........................
D– alat dan metode.........................................................................................................
E– Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan
pendidikan) ............
BAB III PENUTUP ............................................................................................................
Kesimpilan ............................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Seorang calon
pendidik hanya dapat melaksanakan tugasnya dengan baik jika memperoleh jawaban
yang jelas dan benar tentang apa yang dimaksud pendidikan. Jawaban yang benar
tentang pendidikan diperoleh melalui pemahaman terhadap unsur-unsurnya,pendidikan.
Bab II ini akan mengkaji,unsur-unsur pendidikandan sistem pendidikan.
Ketika semua
unsur pendidikan mengetahui perannya masing- masing, maka ini akan mempermudah
dalam menggapai tujuan dari pendidikan tersebut. Namun, sekedar mengetahui
bukanlah hal yang dianggap cukup. Kesadaran akan pengaplikasian yang penuh
keikhlasan adalah sesuatu yang lebih penting karena dalam mendidik dibutuhkan
seorang pendidik yang tangguh dan penuh kesabaran dalam menyalurkan segala ilmu
yang ia punya.
Semua unsur- unsur dalam pendidikan haruslah saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Ini dikarenakan banyak hal yang dapat mengakibatkan suatu proses pembelajaran. Pada saat ini banyak sekali seorang pendidik yang tidak patuh pada peraturan yang berakibat melemahnya suatu misi untuk mencapai visi secara maksinal.
Semua unsur- unsur dalam pendidikan haruslah saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Ini dikarenakan banyak hal yang dapat mengakibatkan suatu proses pembelajaran. Pada saat ini banyak sekali seorang pendidik yang tidak patuh pada peraturan yang berakibat melemahnya suatu misi untuk mencapai visi secara maksinal.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa sajakah unsur- unsur yang membangun suatu sistem pendidikan
2.
Mengkaji hadis hadis
tentang unsur unsur pendidikan
C.
Tujuan
Penulisan
Dengan adanya makalah dan diskusi ini
diharapkan kami selaku mahasiswa mengerti tentang unsur
unsur pendidikan persepektif islam dan dapat mengetahwi hadis hadis tentang
pendidikan lebih mendetail.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Unsur unsur pendidikan
Proses
pendidikan melibatkan banyak unsur diantaranya:
1.
Subjek yang dibimbing (peserta didik).
2.
Orang yang membimbing (pendidik)
3.
Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
4.
alat dan metode
5.
Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung
(lingkungan
pendidikan)
Penjelasan:
1.
Peserta Didik
Peserta didik
merupakan salah satu komponen dalam suatu pendidikan secara formal adalah orang
yang sedang berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik,
maupun spikis. Menurut pasal 1 ayat 4 UU RI No. 20 tahun 2003 tentang pndidikan
Nasional, peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan
dirinya melalui proses pendidikan pada
jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Demikian
penting seorang peserta didik, maka begitu banyak hadis-hadis yang berkenaan
dengan keutamaan, karakteristik serta syarat yang dimiliki peserta didik.
Hadis-Hadis
Tentang Keutamaan Peserta Didik
a. Terhindar dari kutukan Allah
وَعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ سَمِعْتُ رَسُوْلُ
اللهِ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ يَقُوْلُ إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُوْنَةِ
مَلْعُوْنٌ مَا فِيْهَا إِلْاذِكْرُ اللهِ وَمَاالأَهُ اَوْ عَلِمٌ وَمُتَعَلِّمُ[رواه الترمذى]
Artinya:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Saya mendengar
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya dunia dan isinya terkutuk, kecuali
zikrullah dan hal-hal terkait dengannya, alim (guru), dan peserta didik.
Dari hadis di atas jelaslah bahwa salah satu yang tidak
terhindar dari kutukan Allah adalah peserta didik, hal ini karena peserta didik
merupakan sosok yang sedang mencari kebenaran yaitu dengan menuntut ilmu,
sehingga ketika pendidik telah memiliki ilmu derajatnya akan di angkat oleh
Allah swt.[1]
b. Memiliki
Kemuliaan (Martabat)
: عن أنس ، قال سمعت
رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول
{ رواه القضائى}أَكْرِمُوْا
أَوْلاَدَكُمْ وَأَحْسِنُوْا آدَابَهُمْ
Artinya:
Dari Anas, saya
mendengarkan Rasulullah saw. bersabda: muliakanlah anak-anakmu dan baguskanlah
pendidikannya
Hadis tersebut memang perintah kepada orangtua
untuk memuliakan dan mendidik anaknya
dengan bagus, akan tetapi dapat juga kita pahami dari hadis tersebut tertuju
kepada peserta didik, dimana seorang peserta didik harus memiliki kemulian atau
martabat.
Adapun diantara membaguskan pendidikan anak
pada hadis diatas menurut hemat pemakalah yaitu: memberikan pemahaman-pemahaman
kepada anak, memberikan teladan, memilihkan lembaga pendidikan yang baik bagi perkembangan anaknnya serta
memilihkan teman sebaya yang tidak akan menjerumuskan anaknya kepada jalan yang tidak baik. [2]
c. Memiliki kesamaan
derajat
Adapun kesamaan derajat yang di maksud di sini
adalah tidak adanya perbedaan antara jenis kelamin, perbedaan suku, warna kulit
dll dalam menuntut ilmu. Setiap manusia sama hanya saja perbedaannya pada
tingkat ketakwaannya.
Hadis hadis tentang syarat-syarat
Peserta didik
a. Peserta Didik harus Ikhlas
sebagaimana sabdanya yang berbunyi:
عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ، عَن ْرَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ
الْعُلَمَاءَ، وَيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ فِي الْمَجَالِسِ، لَمْ يَرَحْ
رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
Dari Mu'az ibn Jabal, Rasulullah saw.
bersabda: Siapa yang menuntut ilmu karena ingin merasa bangga sebagai ulama,
menipu orang bodoh di majlis tidak akan mencium aroma sorga
Dari hadis di
atas dapat pemakalah pahami bahwa, begitu pentingnya keikhlasan yang harus
dimiliki oleh peserta didik. Sehingga pada hadis menyebutkan peserta didik yang
tidak ikhlas dalam menuntut ilmu tidak akan mencium aroma sorga.
b.Menghormati Guru
Guru merupakan orang tua kedua setelah yang melahirkan
kita, karena dialah yang mendidik kita dengan penuh kesabaran sehingga kita
menjadi orang yang berilmu. Maka sebagai peserta didik haruslah menghargai
dan menghormati pendidiknya. Keharusan menghormati pendidik tersebut tergambar
dalam hadis Rasulullah, yaitu:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ
لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ
صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
Artingya:
Ubadah ibn Shamit meriwayatkan bahwa Rasulullah saw.
bersabda: Tidaklah termasuk umatku orang yang tidak memuliakan orang-orang
dewasa, tidak menyayangi yang kecil dan tidak mengenal hak-hak orang alim
(guru)(Hr Ahmat).
Dalam hadis di atas jelaslah bahwa peserta
didik harus menghormati pendidiknya, sehingga Rasulullah mengatakan bahwa
peserta didik yang tidak menghargai dan menghormati pendidiknya bukanlah
umatnya
2. Orang yang membimbing (pendidik)
pendidik dalam Islam ialah siapa
saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik. Dalam Islam,
orang yang paling bertanggung jawab adalah orang tua (ayah dan ibu) anak didik.
Pada awalnya tugas pendidik adalah murni tugas kedua orang tua, namun pada
perkembangan zaman yang telah maju seperti sekarang ini banyak tugas orang tua
sebagai pendidik yang diserahkan ke sekolah, karena lebih efisien dan lebih
efektif.
Nur
Uhbiyati memberikan definisi tentang pendidik; adalah orang dewasa yang
bertanggungjawab member bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam
perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu
melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah, khalifah di permukaan bumi,
sebagai makhluk sosial sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri
Hadis-Hadis
Tentang Keutamaan Peserta Didik
Tugas seorang guru yang pertama dan
terpenting adalah pengajar (murabbiy, mu’allim). Firman Allah dalam
surat Ar-Rahman ayat 2 - 4.
عَلَّمَ
الْقُرْآَنَ (2) خَلَقَ الْإِنْسَانَ (3) عَلَّمَهُ الْبَيَانَ (4)
Artinya:
Yang telah
mengajarkan Al Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.[3]
Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa Nabi
Muhammad SAW di ajari oleh jibril. Jibril itu sangat kuat, baik ilmunya maupun
amalnya,Kemudian Nabi Muhammad SAW mempelajarinya dan mengamalkannya. Ayat ini
merupakan jawaban dari perkataan mereka yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW
itu hanyalah tukang dongeng yang mendongengkan dongeng-dongeng
(legenda-legenda) orang-orang dahulu. Dari sini jelas bahwa Rasulullah SAW itu
bukan di ajari seorang manusia akan tetapi di ajari oleh malaikat jibril yang
sangat kuat. [4]
Ayat diatas juga memberikan pelajaran bagi guru
tentang sifat kuat. Sifat Kuat disini bukan berarti kuat secara fisik. Namun
kuat dalam ayat ini dimaksudkan dalam kekuatan mental yang ada pada seorang
guru. Kekuatan mental yang tinggi akan mengurangi rasa negatif yang menimpa
diri seperti, cemas, malas, bosan, dan sebagainya. Oleh karena itu, seorang
guru harus kuat dalam menghadapi segalam macam hal yang ada dalam tugasnya. Dan
apabila ada masalah yang menyelimuti, seorang guru hendaknya kuat, sabar dan
tabah menghadapinya serta berusaha untuk memecahkan masalah yang ada.
Dalam hadits yang diriwayatkan at-Turmudzi,
Rasulullah SAW memerintahkan untuk menyampaikan segala apa yang dimiliki
walaupun sedikit. Dan secara tersurat, hadits itu juga menyatakan ancaman bagi
seseorang yang berbuat dusta.
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ عَنِ ابْنِ ثَوْبَانَ
هُوَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ عَنْ حَسَّانَ بْنِ
عَطِيَّةَ عَنْ أَبِى كَبْشَةَ السَّلُولِىِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا
عَنْ بَنِى إِسْرَائِيلَ وَلاَ حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا
فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ
حَسَنٌ صَحِيحٌ- الترمذي
Menceritakan kepada
kami Muhammad bin yahya, menceritakan kepada kami Muhammad bin yusuf dari ibnu
tsauban. Dia Abdurrahman bin tasbit bin tsauban dari Hassan bin ‘athiyyah dari
abi kabsyata as- saluliy dari ‘Abdillah bin ‘amr berkata: Rasulullah SAW
bersabda: Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat, dan ceritakanlah kepada bani
isra’il dan janganlah berbuat kesalahan. Dan barang siapa yang berdusta atas
namaku (muhammad) dengan sengaja, maka Disediakan tempat baginya di neraka.
Dari matan hadits
diatas, dapat dipahami beberapa pokok bahasan yang harus diimplementasikan oleh
seorang guru (pendidik), diantarnya:
a.
Seseorang guru adalah seorang yang menyampaikan ilmu (pengetahuan)
kepada orang lain, walaupun hanya sedikit.
b.
Seorang guru harusnya mencegah dirinya dari berbuat kesalahan,
karena guru dipahami sebagai uswatun h}asanah (teladan) bagi semua
elemen masyarakat khususnya peserta didiknya.
c. Seorang
guru tidak boleh berbuat dusta atas nama Nabi Muhammad. Dalam kaitannya ini
berdusta atas nama Nabi Muhammad bisa diperluas maknanya (dilalatu an nash)
dengan berdusta atas nama Allah. Oleh karena itu konsekuensi logisnya (dilalatu
al-isyara>t) seseorang harus berbuat jujur dalam setiap
kondisi apapun.
3. Interaksi antara peserta didik dengan pendidik
(interaksi edukatif)
Interaksi
edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antara peserta didik
dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan
secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan manipulasi
isi, metode, serta alat-alat pendidikan.
4.
Alat(Media) dan Metode
a.
Pengertian Media
Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang
secara harfiah berarti “tengah”, “perantara” atau “pengantar”. Dalam bahasa
Arab, media adalah perantara ( وسا ئل )
atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan
Media pembelajran itu sendiri, sebenarnya sudah ada dan diaplikasikan sejak
zaman Rasulullah saw. Rasulullah adalah sosok pendidik yang agung bagi umat
manusia. Beliau dalam mengajarkan ilmu pengetahuan kepada sahabat-sahabatnya
tidak lepas dari adanya media sebagai sarana penyampaian materi ajarnya
Pandangan al-Qur’an
terhadap media dan alat pembelajaran, antara lain dapat dilihat dalam kandungan
surat al-Maidah ayat 31:
فَبَعَثَ اللَّهُ
غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْءَةَ أَخِيهِ
قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ
سَوْءَةَ أَخِي فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ (31)المائدة
“Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk
memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat
saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu
berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku
ini?" Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.”
Sebagian mufassir menjelaskan bahwa setelah “Qobil”
mengamati apa yang dilakukan oleh burung gagak dan mendapatkan pelajaran
darinya, dia berkata:” Aduhai celaka besar, mengapa aku tidak mampu berbuat
seperti burung gagak itu, lalu menguburkan mayat saudaraku (untuk menutupi bau
busuk yang ditimbulkannya)?. Karena itu dia menjadi orang yang menyesal akibat
kebodohannya, kecuali sesudah belajar dari peristiwa gagakPeristiwa ini menjadi
indikasi bahwa telah terjadi proses pembelajaran yang menggunakan media belajar
berupa fenomena alam, dengan pengetahuan mengenali sifat, karakteristik dan
perilaku alam.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa sejak masa Nabi Adam as. (manusia
pada saat awal kehadirannya) proses pembelajaran sudah menggunakan media
belajar yang telah sampai pada tahap praeksplorasi fenomena alam, dengan
pengetahuan mengenali sifat, karakteristik dan perilaku alam.
b. Pengertian Metode
Dalam proses pendidikan islam, salah satu faktor terpenting untuk
tercapainya tujuan pendidikan adalah dengan metode pendidikan yang baik dan
tepat.
Hadist tentang perintah menggunakan Metode
عَنْ أَبِيْ مُوْسَى قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِذَا بَعَثَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِهِ فِي بَعْضِ اَمْرِهِ قَالَ
بَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا وَيَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُا (رواه مسلم)
Dari Abu Burdah dari
Abu Musa, ia berkata Rasulullah SAW ketika mengutus salah seorang sahabat di
dalam sebagian perintahnya Rasulullah SAW bersabda berilah mereka kabar gembira
dan janganlah mereka dibuat lari dan permudahkanlah manusia dalam soal-soal
agama dan janganlah mempersukar mereka (HR. Imam Muslim)
Hadist diatas menjelaskan bahwa proses pembelajaran harus dibuat dengan
semudah mungkin dan sekaligus menyenangkan agar para peserta didik tidak
tertekan secara psikologis dan merasa bosan dengan suasana di kelas. Dengan
pemilihan metode yang sesuai dan tepat maka berjalannya proses pembelajaran
akan mudah dan menyenangkan bagi peserta didik. Suasana pembelajaran yang mudah
dan menyenangkan ini akan mempengaruhi minat belajar peserta didik untuk
telibat aktif dalam proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran akan dapat
tercapai dengan maksimal.
5. Tempat
Peristiwa Bimbingan Berlangsung (lingkungan pendidikan)
Berbicara lingkungan
dalam konteks pendidikan, maka tidak terlepas dari apa yang disebutkan
oleh Ki Hajar Dewantara dengan penamaan
Tripusat Pendidikan. Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa pendidikan berlangsung
dalam tripusat pendidikan yaitu : lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan
lingkungan masyarakat. Jika dikaitkan dengan prespektif islam, maka ada
beberapa konsep yang dilahirkan baik dari al qur’an, Nabi Muhammad maupun dari
para cendekiawan muslim.
a.lingkungan keluarga
Al qur’an telah
mewanti-wanti agar keluarga memperhatikan pendidikan bagi anaknya supaya
terhindar dari kelemahan baik jasmani maupun rohani, baik fisik maupun psikis.
Al qur’an memerintahkan agar menjaga keluarga dari api neraka sebagaiman yang
di sebutkan dalam surat at tahrim (66) ayat 6
yang berbunyi :
$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% öä3|¡àÿRr& öä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou‘$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#y‰Ï© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ
“hai orang-orang yang
beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan
tidak mendurhakai allah terhadap apa yang diperintahkan-nya kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.
Kalau orang tua tidak
bisa pandai mendidik dan memelihara anak, akhirnya anak akan terjerumus kepada
perilaku yang negative, maka akibatnya orang tua akan menerima akibatnya baik
di kehidupan dunia apalagi diakhirat.
sabda Nabi Muhammad
Saw:
عن اَبِىْ هُرَيْرَةَ
رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ : كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاَبَوَاهُ
يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَنِهِ اَوْ يُمَجِّسَنِهِ (رَوَاهُ الْبُخَارِى
وَمُسْلِمْ
Dari Abu Hurairah R.A, Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda : “Setiap anak
dilahirkan dalam keadaan suci, ayah dan ibunyalah yang menjadikan Yahudi,
Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Berdasarkan hadist
tersebut, jelaslah bahwa orang tua memegang peranan penting dalam membentuk
kepribadian anak didik. Anak dilahirkan dalam keadaan suci, adalah menjadi
tanggung jawab orang tua untuk mendidiknya,
Dalam hadist lain juga
disebutkan
علٍّموا اولادكم السباحـة والرّيامـة (رواه الزيلني)
Artinya “Ajarilah anak-anakmu
berenang dan memanah” (HR. Zailani)
Yang dimasud dengan
berenang dan memanah dalam hadist ini adalah kewajiban orang tua untuk
mendidiknya dalam pendidikan agama dan pendidikan umum, termasuk di dalamnya
adalah pendidikan keterampilan
b. lingkungan sekolah
Tidak semua tugas
mendidik dapat dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga, terutama dalam hal
ilmu pengetahuan dan berbagai macam keterampilan. Oleh karena itu dikirimkan
anak ke sekolah.
Lingkungan sekolah
merupakan lingkungan dimana peserta didik/anak menyerap nilai-nilai akademik
termasuk bersosialisasi dengan guru dan teman sekolah, mengenai hal ini Zarnuzi
penulis buku Ta’limul Muta’alim memberikan arahan tentang guru dan teman.
Menurut Zarnuzi, idealnya seorang guru memiliki sifat alim, wara’, dan lebih
tua. Demikan pula anak di sekolah tidak akan terlepas dari pergaulan teman
sebayanya. Dalam hal ini Zarnuzi menyarankan agar memilih teman tidak
sembarangan. Hendaknya teman itu memiliki sifat belajar yang tekun, wara’, dan
berwatak istiqomah karena hal itu secara langsung maupun tidak langsung akan
saling mempengaruhi. Sebagaimana di ungkapkan Zarnuzi dalm syairnya :
“janganlah bertanya tentang kelakuan seseorang, tetapi lihatlah siapa temannya,
karena biasanya orang itu mengikuti temannya. Kalau temanmu berbudi buruk, maka
menjauhlah segera, bila berlaku baik mak bertemanlan dengannya, tentu kau akan
mendapt petunjuk”
Sekolah bertanggung
jawab atas pendidikan anak-anak selama mereka diserahkan kepadanya. Karena itu
sebagai sumbangan sekolah sebagai lembaga terhadap pendidikan, diantaranya
sebagai berikut;
a)
Sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta
menanamkan budi pekerti yang baik.
b) Sekolah
memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak
dapat diberikan di rumah.
c)
Sekolah melatih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca,
menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu lain sifatnya mengembangkan
kecerdasan dan pengetahuan.
d) Di sekolah diberikan pelajaran etika, keagamaan, estetika,
membenarkan benar atau salah, dan sebagainya
c. lingkungan masyarakat
Lingkungan masyarakat
mempunyai peran penting dalam pendidikan, bagaimana peserta didik hidup di
lingkungan masyarakat sehingga pola perilaku dan gayanya akan di pengaruhi
oleh masyarakat. Masyarakat yang baik
akan membentuk pola peserta didik yang baik pula. Peran masyarakat sangat besar
pengaruhnya karena anak tinggal lama di masyarakat. Oleh karena itu masyarakat
harus mengambil bagian dari proses di sekolah dan memindahkannya di masyarakat
agar pendidikan agar tidak hanya di sekolah, dengan demikian maka prinsip long life
education akan tercipta. Hendaknya masyarakat di jadikan tempat menimba
ilmu. Masyarakat dapat menyediakan akses non formal seperti pesantren,
kursus-kursus dan lain sebagainya yang dapat memacu dan menumbuhkembangkan
potensi warganya terutama anak-anak. .[5]
BAB III
PENTUTUP
A.
Simpulan,
Proses pendidikan melibatkan banyak unsur diantaranya:
1. Subjek yang
dibimbing (peserta didik).
2. Orang yang
membimbing (pendidik)
3. Interaksi
antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
4. alat dan
metode
5. Tempat dimana
peristiwa bimbingan berlangsung
(lingkungan
pendidikan)
DAFTAR PUSTAKA
Al-Thabraniy, Al-Mu'jam al-Kabir, Juz
14, dalam Al-Maktabah al- syamilah
M.Rosyid. Sosiologi
Pendidikan. Idea Pres. Yogyakarta. 2010.
Kementrian Agama Republik Indonesia, Alqur’an
dan tafsirnya jilid 9Jakarta:
Widya Cahaya,
Quraish, M. Shihab, Tafisr Al mishbah
(Pesan, Kesan dan keserasian
Al-Qur’an) volume 7, Jakarta:
Lentera Hati, 2002.
Imam Abi Husain Muslim Ibn Hajjaj Qusyairiy
Taisaburiy, Shahih Muslim,
(Beirut:
Dar al-Kutub al Ilmiyah, 1971)
[2] Imam Abi Husain Muslim Ibn Hajjaj
Qusyairiy Taisaburiy, Shahih Muslim, (Beirut: Dar al-Kutub al Ilmiyah, 1971),
hlm. 570.
[3] Kementrian
Agama Republik Indonesia, Alqur’an dan tafsirnya jilid 9Jakarta: Widya
Cahaya,
Al-Qur’an) volume 7, Jakarta:
Lentera Hati, 2002.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar