Sabtu, 25 April 2015

MAKALAH HADITS TARBIYAH UNSUR UNSUR PENDIDIKAN



MAKALAH
 HADITS TARBIYAH
UNSUR UNSUR PENDIDIKAN
Dosen pengapu MURZAL, M.Ag
OLEH KELOMPOK: I
NURJANAH               (151139170)
RUDI MURSIDIN      (151139172)
FARHANI                  (151139173)
TASYA NISOBA        (151139174)
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM
MATARAM
2013

                                      KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT,  atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “UNSUR UNSUR PENDIDIKAN’’. Dalam rangka meyelesaikan tugas klompok I dalam mata kuliyah Hadis Tarbiah.
Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa  terimakasih dan semoga allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat bagi kami selaku penulis,dan bagi pembaca , amin yarabbal alamin.




Mataram, 10 ktober 2013



Penuli
s.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................................
DAFTAR ISI .......................................................................................................................
BAB 1 PENDALUAN ........................................................................................................  
1.      Latar Belakang............................................................ ..............................................
2.       Rumusan masaah......................................................................................................
3.      Tujuan .......................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................................  
UNSUR UNSUR PENDIDIKAN.........................................................
A– Subjek yang dibimbing (peserta didik) .....................................................................
B– Orang yang membimbing (pendidik).........................................................................
C– Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif).........................
D– alat dan metode.........................................................................................................
E– Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan) ............
BAB III PENUTUP ............................................................................................................  
Kesimpilan ............................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................  







BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Seorang calon pendidik hanya dapat melaksanakan tugasnya dengan baik jika memperoleh jawaban yang jelas dan benar tentang apa yang dimaksud pendidikan. Jawaban yang benar tentang pendidikan diperoleh melalui pemahaman terhadap unsur-unsurnya,pendidikan. Bab II ini akan mengkaji,unsur-unsur pendidikandan sistem pendidikan.
Ketika semua unsur pendidikan mengetahui perannya masing- masing, maka ini akan mempermudah dalam menggapai tujuan dari pendidikan tersebut. Namun, sekedar mengetahui bukanlah hal yang dianggap cukup. Kesadaran akan pengaplikasian yang penuh keikhlasan adalah sesuatu yang lebih penting karena dalam mendidik dibutuhkan seorang pendidik yang tangguh dan penuh kesabaran dalam menyalurkan segala ilmu yang ia punya.
Semua unsur- unsur dalam pendidikan haruslah saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Ini dikarenakan banyak hal yang dapat mengakibatkan suatu proses pembelajaran. Pada saat ini banyak sekali seorang pendidik yang tidak patuh pada peraturan yang berakibat melemahnya suatu misi untuk mencapai visi secara maksinal.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa sajakah unsur- unsur yang membangun suatu sistem pendidikan
2.      Mengkaji hadis hadis tentang unsur unsur pendidikan
C.    Tujuan Penulisan
Dengan adanya makalah dan diskusi ini diharapkan kami selaku mahasiswa mengerti tentang unsur unsur pendidikan persepektif islam dan dapat mengetahwi hadis hadis tentang pendidikan lebih mendetail.




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Unsur unsur pendidikan
Proses pendidikan melibatkan banyak unsur diantaranya:
1.      Subjek yang dibimbing (peserta didik).
2.      Orang yang membimbing (pendidik)
3.      Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
4.      alat dan metode
5.      Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung
(lingkungan pendidikan)
Penjelasan:
1.      Peserta Didik
Peserta didik merupakan salah satu komponen dalam suatu pendidikan secara formal adalah orang yang sedang berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik, maupun spikis. Menurut pasal 1 ayat 4 UU RI No. 20 tahun 2003 tentang pndidikan Nasional, peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan  pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Demikian penting seorang peserta didik, maka begitu banyak hadis-hadis yang berkenaan dengan keutamaan, karakteristik serta syarat yang dimiliki peserta didik.

Hadis-Hadis Tentang Keutamaan Peserta Didik
a.  Terhindar dari kutukan Allah
وَعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ يَقُوْلُ إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُوْنَةِ مَلْعُوْنٌ مَا فِيْهَا إِلْاذِكْرُ اللهِ وَمَاالأَهُ اَوْ عَلِمٌ وَمُتَعَلِّمُ[رواه الترمذى]
Artinya:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya dunia dan isinya terkutuk, kecuali zikrullah dan hal-hal terkait dengannya, alim (guru), dan peserta didik.
Dari hadis di atas jelaslah bahwa salah satu yang tidak terhindar dari kutukan Allah adalah peserta didik, hal ini karena peserta didik merupakan sosok yang sedang mencari kebenaran yaitu dengan menuntut ilmu, sehingga ketika pendidik telah memiliki ilmu derajatnya akan di angkat oleh Allah swt.[1]
b. Memiliki Kemuliaan (Martabat)
         : عن أنس ، قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول
{ رواه القضائى}أَكْرِمُوْا أَوْلاَدَكُمْ وَأَحْسِنُوْا آدَابَهُمْ
Artinya:
 Dari Anas, saya mendengarkan Rasulullah saw. bersabda: muliakanlah anak-anakmu dan baguskanlah pendidikannya
Hadis tersebut memang perintah kepada orangtua untuk  memuliakan dan mendidik anaknya dengan bagus, akan tetapi dapat juga kita pahami dari hadis tersebut tertuju kepada peserta didik, dimana seorang peserta didik harus memiliki kemulian atau martabat.
Adapun diantara membaguskan pendidikan anak pada hadis diatas menurut hemat pemakalah yaitu: memberikan pemahaman-pemahaman kepada anak, memberikan teladan, memilihkan lembaga pendidikan yang  baik bagi perkembangan anaknnya serta memilihkan teman sebaya yang tidak akan menjerumuskan anaknya  kepada jalan yang tidak baik. [2]
c. Memiliki kesamaan derajat
Adapun kesamaan derajat yang di maksud di sini adalah tidak adanya perbedaan antara jenis kelamin, perbedaan suku, warna kulit dll dalam menuntut ilmu. Setiap manusia sama hanya saja perbedaannya pada tingkat ketakwaannya.
Hadis hadis tentang syarat-syarat Peserta didik
a.       Peserta Didik harus Ikhlas
sebagaimana sabdanya yang berbunyi:
عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ، عَن ْرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، وَيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ فِي الْمَجَالِسِ، لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
 Dari Mu'az ibn Jabal, Rasulullah saw. bersabda: Siapa yang menuntut ilmu karena ingin merasa bangga sebagai ulama, menipu orang bodoh di majlis tidak akan mencium aroma sorga
Dari hadis di atas dapat pemakalah pahami bahwa, begitu pentingnya keikhlasan yang harus dimiliki oleh peserta didik. Sehingga pada hadis menyebutkan peserta didik yang tidak ikhlas dalam menuntut ilmu tidak akan mencium aroma sorga.
b.Menghormati Guru
Guru merupakan orang tua kedua setelah yang melahirkan kita, karena dialah yang mendidik kita dengan penuh kesabaran sehingga kita menjadi orang yang berilmu. Maka sebagai peserta didik haruslah menghargai dan menghormati pendidiknya. Keharusan menghormati pendidik tersebut tergambar dalam hadis Rasulullah, yaitu:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ
صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
Artingya:
Ubadah ibn Shamit meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tidaklah termasuk umatku orang yang tidak memuliakan orang-orang dewasa, tidak menyayangi yang kecil dan tidak mengenal hak-hak orang alim (guru)(Hr Ahmat).
  Dalam hadis di atas jelaslah bahwa peserta didik harus menghormati pendidiknya, sehingga Rasulullah mengatakan bahwa peserta didik yang tidak menghargai dan menghormati pendidiknya bukanlah umatnya
2.   Orang yang membimbing (pendidik)
pendidik dalam Islam ialah siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik. Dalam Islam, orang yang paling bertanggung jawab adalah orang tua (ayah dan ibu) anak didik. Pada awalnya tugas pendidik adalah murni tugas kedua orang tua, namun pada perkembangan zaman yang telah maju seperti sekarang ini banyak tugas orang tua sebagai pendidik yang diserahkan ke sekolah, karena lebih efisien dan lebih efektif.
Nur Uhbiyati memberikan definisi tentang pendidik; adalah orang dewasa yang bertanggungjawab member bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah, khalifah di permukaan bumi, sebagai makhluk sosial sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri
Hadis-Hadis Tentang Keutamaan Peserta Didik
Tugas seorang guru yang pertama dan terpenting adalah pengajar (murabbiy, mu’allim). Firman Allah dalam surat Ar-Rahman ayat 2 - 4.
عَلَّمَ الْقُرْآَنَ (2) خَلَقَ الْإِنْسَانَ (3) عَلَّمَهُ الْبَيَانَ (4)
Artinya:
Yang telah mengajarkan Al Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.[3]
Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa Nabi Muhammad SAW di ajari oleh jibril. Jibril itu sangat kuat, baik ilmunya maupun amalnya,Kemudian Nabi Muhammad SAW mempelajarinya dan mengamalkannya. Ayat ini merupakan jawaban dari perkataan mereka yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW itu hanyalah tukang dongeng yang mendongengkan dongeng-dongeng (legenda-legenda) orang-orang dahulu. Dari sini jelas bahwa Rasulullah SAW itu bukan di ajari seorang manusia akan tetapi di ajari oleh malaikat jibril yang sangat kuat. [4]
Ayat diatas juga memberikan pelajaran bagi guru tentang sifat kuat. Sifat Kuat disini bukan berarti kuat secara fisik. Namun kuat dalam ayat ini dimaksudkan dalam kekuatan mental yang ada pada seorang guru. Kekuatan mental yang tinggi akan mengurangi rasa negatif yang menimpa diri seperti, cemas, malas, bosan, dan sebagainya. Oleh karena itu, seorang guru harus kuat dalam menghadapi segalam macam hal yang ada dalam tugasnya. Dan apabila ada masalah yang menyelimuti, seorang guru hendaknya kuat, sabar dan tabah menghadapinya serta berusaha untuk memecahkan masalah yang ada.
Dalam hadits yang diriwayatkan at-Turmudzi, Rasulullah SAW memerintahkan untuk menyampaikan segala apa yang dimiliki walaupun sedikit. Dan secara tersurat, hadits itu juga menyatakan ancaman bagi seseorang yang berbuat dusta.   
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ عَنِ ابْنِ ثَوْبَانَ هُوَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِى كَبْشَةَ السَّلُولِىِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِى إِسْرَائِيلَ وَلاَ حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ- الترمذي
Menceritakan kepada kami Muhammad bin yahya, menceritakan kepada kami Muhammad bin yusuf dari ibnu tsauban. Dia Abdurrahman bin tasbit bin tsauban dari Hassan bin ‘athiyyah dari abi kabsyata as- saluliy dari ‘Abdillah bin ‘amr berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat, dan ceritakanlah kepada bani isra’il dan janganlah berbuat kesalahan. Dan barang siapa yang berdusta atas namaku (muhammad) dengan sengaja, maka Disediakan tempat baginya di neraka.

Dari matan hadits diatas, dapat dipahami beberapa pokok bahasan yang harus diimplementasikan oleh seorang guru (pendidik), diantarnya:
a.       Seseorang guru adalah seorang yang menyampaikan ilmu (pengetahuan) kepada orang lain, walaupun hanya sedikit.
b.      Seorang guru harusnya mencegah dirinya dari berbuat kesalahan, karena guru dipahami sebagai uswatun h}asanah (teladan) bagi semua elemen masyarakat khususnya peserta didiknya.
c.       Seorang guru tidak boleh berbuat dusta atas nama Nabi Muhammad. Dalam kaitannya ini berdusta atas nama Nabi Muhammad bisa diperluas maknanya (dilalatu an nash) dengan berdusta atas nama Allah. Oleh karena itu konsekuensi logisnya (dilalatu al-isyara>t) seseorang harus berbuat jujur dalam setiap kondisi apapun.
3.   Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
Interaksi edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antara peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan manipulasi isi, metode, serta alat-alat pendidikan.


4.      Alat(Media) dan Metode
a.      Pengertian Media
Kata media berasal dari  bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti “tengah”, “perantara” atau “pengantar”. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara ( وسا ئل ) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan
Media pembelajran itu sendiri, sebenarnya sudah ada dan diaplikasikan sejak zaman Rasulullah saw. Rasulullah adalah sosok pendidik yang agung bagi umat manusia. Beliau dalam mengajarkan ilmu pengetahuan kepada sahabat-sahabatnya tidak lepas dari adanya media sebagai sarana penyampaian materi ajarnya
Pandangan al-Qur’an terhadap media dan alat pembelajaran, antara lain dapat dilihat dalam kandungan surat al-Maidah ayat 31:
فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْءَةَ أَخِيهِ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْءَةَ أَخِي فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ (31)المائدة
“Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.”
Sebagian mufassir menjelaskan bahwa setelah “Qobil” mengamati apa yang dilakukan oleh burung gagak dan mendapatkan pelajaran darinya, dia berkata:” Aduhai celaka besar, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak itu, lalu menguburkan mayat saudaraku (untuk menutupi bau busuk yang ditimbulkannya)?. Karena itu dia menjadi orang yang menyesal akibat kebodohannya, kecuali sesudah belajar dari peristiwa gagakPeristiwa ini menjadi indikasi bahwa telah terjadi proses pembelajaran yang menggunakan media belajar berupa fenomena alam, dengan pengetahuan mengenali sifat, karakteristik dan perilaku alam.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa sejak masa Nabi Adam as. (manusia pada saat awal kehadirannya) proses pembelajaran sudah menggunakan media belajar yang telah sampai pada tahap praeksplorasi fenomena alam, dengan pengetahuan mengenali sifat, karakteristik dan perilaku alam.
b.   Pengertian Metode
Dalam proses pendidikan islam, salah satu faktor terpenting untuk tercapainya tujuan pendidikan adalah dengan metode pendidikan yang baik dan tepat.
Hadist tentang perintah menggunakan Metode
عَنْ أَبِيْ مُوْسَى قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَعَثَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِهِ فِي بَعْضِ اَمْرِهِ قَالَ بَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا وَيَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُا  (رواه مسلم)
Dari Abu Burdah dari Abu Musa, ia berkata Rasulullah SAW ketika mengutus salah seorang sahabat di dalam sebagian perintahnya Rasulullah SAW bersabda berilah mereka kabar gembira dan janganlah mereka dibuat lari dan permudahkanlah manusia dalam soal-soal agama dan janganlah mempersukar mereka (HR. Imam Muslim)
Hadist diatas menjelaskan bahwa proses pembelajaran harus dibuat dengan semudah mungkin dan sekaligus menyenangkan agar para peserta didik tidak tertekan secara psikologis dan merasa bosan dengan suasana di kelas. Dengan pemilihan metode yang sesuai dan tepat maka berjalannya proses pembelajaran akan mudah dan menyenangkan bagi peserta didik. Suasana pembelajaran yang mudah dan menyenangkan ini akan mempengaruhi minat belajar peserta didik untuk telibat aktif dalam proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran akan dapat tercapai dengan maksimal.
5.   Tempat Peristiwa Bimbingan Berlangsung (lingkungan pendidikan)
Berbicara lingkungan dalam konteks pendidikan, maka tidak terlepas dari apa yang disebutkan oleh  Ki Hajar Dewantara dengan penamaan Tripusat Pendidikan. Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa pendidikan berlangsung dalam tripusat pendidikan yaitu : lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Jika dikaitkan dengan prespektif islam, maka ada beberapa konsep yang dilahirkan baik dari al qur’an, Nabi Muhammad maupun dari para cendekiawan muslim.
a.lingkungan keluarga
Al qur’an telah mewanti-wanti agar keluarga memperhatikan pendidikan bagi anaknya supaya terhindar dari kelemahan baik jasmani maupun rohani, baik fisik maupun psikis. Al qur’an memerintahkan agar menjaga keluarga dari api neraka sebagaiman yang di sebutkan dalam surat at tahrim (66) ayat 6  yang berbunyi :
$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% öä3|¡àÿRr& öä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou‘$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#y‰Ï© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ  
“hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai allah terhadap apa yang diperintahkan-nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.
Kalau orang tua tidak bisa pandai mendidik dan memelihara anak, akhirnya anak akan terjerumus kepada perilaku yang negative, maka akibatnya orang tua akan menerima akibatnya baik di kehidupan dunia apalagi diakhirat.
sabda Nabi Muhammad Saw:
عن اَبِىْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَنِهِ اَوْ يُمَجِّسَنِهِ (رَوَاهُ الْبُخَارِى وَمُسْلِمْ
Dari Abu Hurairah R.A, Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda : “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, ayah dan ibunyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Berdasarkan hadist tersebut, jelaslah bahwa orang tua memegang peranan penting dalam membentuk kepribadian anak didik. Anak dilahirkan dalam keadaan suci, adalah menjadi tanggung jawab orang tua untuk mendidiknya,
Dalam hadist lain juga disebutkan
علٍّموا اولادكم السباحـة والرّيامـة (رواه الزيلني)
Artinya “Ajarilah anak-anakmu berenang dan memanah” (HR. Zailani)
Yang dimasud dengan berenang dan memanah dalam hadist ini adalah kewajiban orang tua untuk mendidiknya dalam pendidikan agama dan pendidikan umum, termasuk di dalamnya adalah pendidikan keterampilan
b. lingkungan sekolah
Tidak semua tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam keterampilan. Oleh karena itu dikirimkan anak ke sekolah.
Lingkungan sekolah merupakan lingkungan dimana peserta didik/anak menyerap nilai-nilai akademik termasuk bersosialisasi dengan guru dan teman sekolah, mengenai hal ini Zarnuzi penulis buku Ta’limul Muta’alim memberikan arahan tentang guru dan teman. Menurut Zarnuzi, idealnya seorang guru memiliki sifat alim, wara’, dan lebih tua. Demikan pula anak di sekolah tidak akan terlepas dari pergaulan teman sebayanya. Dalam hal ini Zarnuzi menyarankan agar memilih teman tidak sembarangan. Hendaknya teman itu memiliki sifat belajar yang tekun, wara’, dan berwatak istiqomah karena hal itu secara langsung maupun tidak langsung akan saling mempengaruhi. Sebagaimana di ungkapkan Zarnuzi dalm syairnya : “janganlah bertanya tentang kelakuan seseorang, tetapi lihatlah siapa temannya, karena biasanya orang itu mengikuti temannya. Kalau temanmu berbudi buruk, maka menjauhlah segera, bila berlaku baik mak bertemanlan dengannya, tentu kau akan mendapt petunjuk”
Sekolah bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak selama mereka diserahkan kepadanya. Karena itu sebagai sumbangan sekolah sebagai lembaga terhadap pendidikan, diantaranya sebagai berikut;
a)    Sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan budi pekerti yang baik.
b)   Sekolah memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah.
c)    Sekolah melatih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu lain sifatnya mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan.
d)   Di sekolah diberikan pelajaran etika, keagamaan, estetika, membenarkan benar atau salah, dan sebagainya
c. lingkungan masyarakat
Lingkungan masyarakat mempunyai peran penting dalam pendidikan, bagaimana peserta didik hidup di lingkungan masyarakat sehingga pola perilaku dan gayanya akan di pengaruhi oleh  masyarakat. Masyarakat yang baik akan membentuk pola peserta didik yang baik pula. Peran masyarakat sangat besar pengaruhnya karena anak tinggal lama di masyarakat. Oleh karena itu masyarakat harus mengambil bagian dari proses di sekolah dan memindahkannya di masyarakat agar pendidikan agar tidak hanya di sekolah, dengan demikian maka prinsip long life education akan tercipta. Hendaknya masyarakat di jadikan tempat menimba ilmu. Masyarakat dapat menyediakan akses non formal seperti pesantren, kursus-kursus dan lain sebagainya yang dapat memacu dan menumbuhkembangkan potensi warganya terutama anak-anak. .[5]


























BAB III
PENTUTUP
A.    Simpulan,
Proses pendidikan melibatkan banyak unsur diantaranya:
1.      Subjek yang dibimbing (peserta didik).
2.      Orang yang membimbing (pendidik)
3.      Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
4.      alat dan metode
5.      Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung
(lingkungan pendidikan)












DAFTAR PUSTAKA

Al-Thabraniy, Al-Mu'jam al-Kabir, Juz 14, dalam Al-Maktabah al- syamilah
M.Rosyid. Sosiologi Pendidikan. Idea Pres. Yogyakarta. 2010.
Kementrian Agama Republik Indonesia, Alqur’an dan tafsirnya jilid 9Jakarta:
Widya Cahaya,
 Quraish, M. Shihab, Tafisr Al mishbah (Pesan, Kesan dan keserasian
 Al-Qur’an) volume 7, Jakarta: Lentera Hati, 2002.
Imam Abi Husain Muslim Ibn Hajjaj Qusyairiy Taisaburiy, Shahih Muslim,
 (Beirut: Dar al-Kutub al Ilmiyah, 1971)


[1] Al-Thabraniy, Al-Mu'jam al-Kabir, Juz 14, dalam Al-Maktabah al- syamilah
[2] Imam Abi Husain Muslim Ibn Hajjaj Qusyairiy Taisaburiy, Shahih Muslim, (Beirut: Dar al-Kutub al Ilmiyah, 1971), hlm. 570.
[3] Kementrian Agama Republik Indonesia, Alqur’an dan tafsirnya jilid 9Jakarta: Widya Cahaya,
[4] Quraish, M. Shihab, Tafisr Al mishbah (Pesan, Kesan dan keserasian
 Al-Qur’an) volume 7, Jakarta: Lentera Hati, 2002.
[5] M.Rosyid. Sosiologi Pendidikan. Idea Pres. Yogyakarta. 2010.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar