MAKALAH
ADAB DALAM MEMBACA AL-QURAN
Dikerjakan oleh
Rudi mursidin
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
MATARAM
2013
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SAW,
atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulisan makalah berjudul
“Adab dalam Membaca al-Quran” dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini jauh
dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis meminta keritik dan saran pembaca
guna sempurnanya makalan ini. Penulis juga menyadari penyelesaian penulisan makalah
ini bukan semata-mata atas usaha sendiri, melainkan karena bantuan, bimbingan, serta
petunjuk berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terima atas
segala bantuan, bimbingan, serta petunjuk yang diberikan.
Penulis,
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Al-Quran
adalah firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui malaikat
Jibril yang merupakan mukjizat terbesar sepanjang sejarah manusia. Bagi siapa
saja yang membaca al-Quran sekalipun tidak memahami maknanya, terhitung sebagai
ibadah dan mendapatkan ganjaran pahala yang sangat besar sebagaimana dijelaskan
dalam hadits Qudsi yang artinya diriwayatkan oleh Abu Said, Rasululloh SAW
bersabda “Allah SWT berfirman: siapa-siapa yang disibukkan dari memohon kepada-Ku
karena membaca al-Quran, maka Aku akan berikan dia sebaik-baik ganjaran orang
yang bermohon. Kelebihan firman Allah dari semua perkataan adalah seperti
kelebihan Allah dari semua makhluk-Nya.”
Dari
Hadits di atas, jelas sekali bahwa al-Quran memiliki posisi yang sangat mulia
sebagai sebaik-baik kitab suci dan sekaligus pedoman hidup bagi umat manusia.
Karena kemulian al-Quran dan untuk mendapatkan ganjaran pahala yang besar.
Penulis
memilih judul “Adab dalam Membaca al-Quran” ini sebagai bahan makalah karena,
selain untuk menyelesaikan tugas edukasi individu atau kelompok, penulis juga tertarik
ingin mengetahui apa dan bagaimana adab atau etika dalam membaca al-Quran.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka penulis dapat merumuskan masalah-masalah yang akan
menjadi bahan dalam penulisan makalah. Rumusan masalahnya adalah “Bagaimana
adab atau etika dalam membaca al-Quran?”
C. Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin penulis capai dalam pembahasan
ini adalah dapat mengetahui adab atau etika dalam membaca al-Quran.
BAB
II
PEMBAHASAN
Berikut ini penulis
akan menguraikan tentang bagaimana adab atau etika dalam membaca al-Quran. Para Ulama bersepakat
mengenai beberapa adab atau etika dalam membaca kitab al-Quran.
Kesepakatan-kesepakatan para Ulama tersebut antara lain:
1.
Agar
orang yang akan membaca al-Quran bersuci baik dari hadas kecil maupun besar,
demikian juga harus suci dari najis baik badan, tempat atau pakaian yang
dikenakan, karena al-Quran merupakan sebaik-baik bentuk zikir dan bermunajat
kepada Allah Yang Maha Suci, mengharuskan seseorang untuk suci lahir batin.
2.
Agar
membaca al-Quran di tempat yang suci dan bersih yang sesuai dengan kemuliaan al-Quran.
Masjid merupakan tempat yang paling mulia dan utama sebagai tempat untuk
membaca al-Quran.
3.
Mengenakan
pakaian yang sopan, rapi dan bersih.
4.
Hendaknya
seseorang yang membaca al-Quran agar menghadap ke arah kiblat, karena membaca al-Quran
adalah ibadah yang semestinya dilaksanakan dengan menghadap kiblat.
5.
Bersihkan
gigi dan mulut dengan siwak agar bersih dan wangi, karena mulut merupakan jalan
keluarnya suara al-Quran.
6.
Ikhlaskan
diri dalam membaca al-Quran semata-mata karena Allah, bukan karena harta,
sanjungan manusia, cari pengaruh dan lain-lain.
7.
Agar
menghadirkan pikiran dan perasaan sepenuhnya terhadap apa yang sedang dibaca,
sebab dia sedang berhadapan dan munajat kepada Allah SWT ketika membaca al-Quran.
8.
Menghindarkan
diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak ada hubungannya dengan membaca al-Quran,
seperti tertawa atau berbicara hal-hal lain seperti dalam keadaan darurat.
9.
Menghidari
melihat hal-hal yang dapat menyimpangkan pikiran atau perasaan dari al-Quran yang
sedang dibaca.
10.
Agar
membaca al-Quran dengan tenang, khusuk, dengan sikap yang sopan dan jauh dari
cara-cara yang tidak sesuai dengan kemuliaan al-Quran.
11.
Mengawali
bacaannya dengan membaca istiadzah.
12.
Mengawali
dengan bacaan basmalah kecuali surat al-Bar’ah.
13.
Membacanya
denga tartil.
Maulana Muhammad
Zakariyya al Kandahlawi menyatakan bahwa adab sebelum membaca al-Quran yakni,
setelah bersiwak dan berwudhu, hendaknya duduk di tempat yang sepi dengan penuh
hormat dan kerendahan sambil menghadap kiblat. Kemudian dengan menghadirkan
hati dan khusu’, kita membaca al-Quran dengan perasaan seperti kita sedang
mendengarkan bacaan al-Quran langsung dari Allah SWT[1].
Jika kita mengerti maknanya, sebaiknya kita membacanya dengan penuh tadabbur dan tafakkur (merenungkan dan memikirkan maknanya).
Apabila menemui
ayat-ayat tentang rahmat, hendaknya berdoa dan mengharap ampunan serta rahmat-Nya.
Apabila menjumpai ayat-ayat tentang adzab dan ancaman Allah, hendaknya kita
meminta perlindungan kepada-Nya, karena tidak ada penolong selain Allah SWT.
Apabila kita menemukan ayat tentang kebesaran dan kemuliaan Allah SWT, maka
ucapkanlah subahanallah. Apabila kita
tidak menangis ketika membaca al-Quran, hendaknya kita berpura-pura menangis[2].
Seandainya tidak
bermaksud menghafal al-Quran, maka jangan membacanya terlalu cepat. Hendaknya
kita letakkan al-Quran di atas bangku, bantal, atau di tempat yang agak tinggi.
Pada waktu membaca al-Quran, kita tidak boleh berbicara dengan siapapun.
Apabila ada keperluan berbicara ketika kita membaca al-Quran, maka kita harus
menutupnya terlebih dahulu. Selesai berbicara, kita awali dengan membaca ta’awudz. Jika orang-orang di sekeliling
kita sedang sibuk, sebaiknya kita membaca al-Quran dengan suara pelan. Apabila
tidak, lebih baik membaca dengan suara keras.[3]
Para ulama telah
menulis ada enam adab lahiriyah dan enam adab batiniyah dalam membaca al-Quran[4].
1.
Adab Lahiriyah
a.
Membacanya
dengan penuh rasa hormat, ada wudhu, dan duduk menghadap kiblat.
b.
Tidak
membacanya terlalu cepat, tetapi dibaca dengan tajwid dan tarti.
c.
Berusaha
menangis, walaupun terpaksa berpura-pura menangis.
d.
Memenuhi
hak ayat-ayat adzab dan rahmat sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya.
e.
Jika
dikhawatirkan akan menimbulkan riya’ atau menggangu orang lain, sebaiknya
membacanya dengan suara pelan. Jika tidak, sebaiknya membaca dengan suara
keras.
f.
Bacalah
dengan suara yang merdu, karena banya hadits yang menerangkan supaya kita
membaca al-Quran dengan suara yang merdu.
2.
Adab Batiniyah
a.
mengagungkan
al-Quran di dalam hati sebagai kalam yang tertinggi.
b.
memasukkan
keagungan Allah SWT dan kebesaranNya karena al-Quran adalah kalamNya.
c.
menjauhkan
rasa bimbang dan ragu dari hati kita.
d.
membacanya
dengan merenungkan makna setiap ayat dengan penuh kenikmatan.
e.
telinga
benar-benar ditawajuhkan seolah-olah Allah sendiri sedang berbicara dengan kita
dan kita sedang mendengarkannya.
Allah berfirman “Dan apabila dibacakan al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik dan
perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat[5].”
(al A'raaf: 204)
1.
Membersihkan
mulut dengan bersiwak sebelum membaca al-Quran.
2.
Membaca
al-Quran di tempat yang bersih seperti masjid, dan sebagainya.
3.
Menghadap
kiblat.
4.
Membaca
ta'awudz (A'udzu billahi
minas-syaithonirrajiim) ketika mulai membaca al-Quran.
5.
Firman
Allah Ta'ala: (Apabila engkau membaca al-Quran maka mohonlah perlindungan Allah
dari godaan setan yang terkutuk)
6.
Membaca
basmalah (Bismillahirrahmaanirrahiim)
di permulaan tiap surat kecuali surat at Taubah.
7.
Khusu'
dan teliti pada setiap ayat yang dibaca.
8.
Firman
Allah Ta'ala: (Apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran
ataukah hati mereka terkunci[6]) (Surat Muhammad: ayat 24)
ataukah hati mereka terkunci[6]) (Surat Muhammad: ayat 24)
9.
Firman
Allah Ta'ala: (Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan
kepadamu penuh dengan keberkahan supaya mereka memerhatikan
ayat-ayat-Nya[7] ....) (Surat Shaad: ayat 29)
kepadamu penuh dengan keberkahan supaya mereka memerhatikan
ayat-ayat-Nya[7] ....) (Surat Shaad: ayat 29)
10. Memperindah, melagukan dan memerdukan
suara dalam membaca al-Quran.
11. Firman Allah Ta'ala: (.....dan bacalah al-Quran
itu dengan perlahan-lahan[8])
(Surat Al Muzzammil: ayat 4)
(Surat Al Muzzammil: ayat 4)
12. Dari Abu Hurairah ra. berkata;
Rasulullah SAW bersabda, "Bukan
dari golongan kita orang-orang yang tidak memperindah suaranya
ketika membaca al-Quran[9]." (Riwayat Bukhari)
dari golongan kita orang-orang yang tidak memperindah suaranya
ketika membaca al-Quran[9]." (Riwayat Bukhari)
13. Dari Abu Hurairah ra. juga, bahawa
beliau berkata; Aku mendengar
Rasulullah SAW bersabda, "Allah tidak mengizinkan sesuatu seperti
yang Dia izinkan kepada seorang nabi yang bagus suaranya, di mana
beliau melagukan al-Quran dengan keras[10]." (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Rasulullah SAW bersabda, "Allah tidak mengizinkan sesuatu seperti
yang Dia izinkan kepada seorang nabi yang bagus suaranya, di mana
beliau melagukan al-Quran dengan keras[10]." (Riwayat Bukhari dan Muslim)
14. Pelan dan tidak tergesa-gesa dalam
membaca al-Quran.
15. Dari Abi Wail dari Abdullah berkata:
Pada waktu pagi kami pergi
kepada Abdullah, dia berkata; Seseorang telah berkata: "Aku telah
membaca satu mufasshal (seperempat al-Quran) tadi malam", Abdullah
berkata: "Secepat itukah seperti orang membaca syair?, sesungguhnya
aku mendengar bacaan dan aku menghafal beberapa pasang ayat yang
dibaca Rasulullah SAW, yaitu sebanyak delapan belas dari mufasshal
dan ada dua dari Alif Laam Haa Miim[11]." (Riwayat Bukhari)
kepada Abdullah, dia berkata; Seseorang telah berkata: "Aku telah
membaca satu mufasshal (seperempat al-Quran) tadi malam", Abdullah
berkata: "Secepat itukah seperti orang membaca syair?, sesungguhnya
aku mendengar bacaan dan aku menghafal beberapa pasang ayat yang
dibaca Rasulullah SAW, yaitu sebanyak delapan belas dari mufasshal
dan ada dua dari Alif Laam Haa Miim[11]." (Riwayat Bukhari)
16. Memperhatikan bacaan (yang panjang
dipanjangkan dan yang pendek
dipendekkan).
dipendekkan).
17. Dari Qatadah ra. berkata; Aku bertanya
kepada Anas bin Malik ra.
tentang bacaan Rasulullah SAW Anas menjawab: Beliau memanjangkan
yang panjang (Mad)."
tentang bacaan Rasulullah SAW Anas menjawab: Beliau memanjangkan
yang panjang (Mad)."
18. Pada riwayat lain: Anas membaca
'Bismillaahirrahmaanirrahiim' dia
memanjangkan 'Bismillaah', dan memanjangkan 'ar-rahmaan' dan
memanjangkan 'ar-rahiim' Dari Ummu Salamah ra. bahwa dia
menggambarkan bacaan Rasulullah SAW seperti membaca sambil
menafsirkan; satu huruf, satu huruf[12]. (Riwayat Abu Daud, Tirmizi, Nasai'e. Tirmizi berkata: hadits ini hasan sahih)
memanjangkan 'Bismillaah', dan memanjangkan 'ar-rahmaan' dan
memanjangkan 'ar-rahiim' Dari Ummu Salamah ra. bahwa dia
menggambarkan bacaan Rasulullah SAW seperti membaca sambil
menafsirkan; satu huruf, satu huruf[12]. (Riwayat Abu Daud, Tirmizi, Nasai'e. Tirmizi berkata: hadits ini hasan sahih)
19. Berhenti untuk berdoa ketika membaca
ayat rahmat dan ayat azab.
20. Dari Huzaifah ra. ia berkata; Pada suatu
malam aku shalat bersama
Nabi Muhammad SAW, beliau membaca surat al Baqarah kemudian
an Nisaa' kemudian Ali 'Imran. Beliau membaca perlahan-lahan,
apabila sampai pada ayat tasbih beliau bertasbih, dan apabila
sampai pada ayat permohonan beliau memohon, dan apabila sampai
pada ayat ta'awudz (mohon perlindungan) beliau mohon perlindungan[13]. (Riwayat Muslim)
Nabi Muhammad SAW, beliau membaca surat al Baqarah kemudian
an Nisaa' kemudian Ali 'Imran. Beliau membaca perlahan-lahan,
apabila sampai pada ayat tasbih beliau bertasbih, dan apabila
sampai pada ayat permohonan beliau memohon, dan apabila sampai
pada ayat ta'awudz (mohon perlindungan) beliau mohon perlindungan[13]. (Riwayat Muslim)
21. Menangis, sedih dan terharu ketika
membaca al-Quran.
22. Allah berfirman: (Dan apabila mereka
mendengarkan apa yang diturunkan
kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air
mata disebabkan kebenaran (al-Quran) yang telah mereka ketahui
(dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata, "Ya Tuhan kami,
kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang
menjadi saksi (atas kebenaran al-Quran dan kenabian Muhammad SAW[14])
(surah Al Maidah - ayat 83)
kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air
mata disebabkan kebenaran (al-Quran) yang telah mereka ketahui
(dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata, "Ya Tuhan kami,
kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang
menjadi saksi (atas kebenaran al-Quran dan kenabian Muhammad SAW[14])
(surah Al Maidah - ayat 83)
23. Allah Ta'ala berfirman: (Katakanlah,
"Berimanlah kamu kepadanya atau
tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang
yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Quran dibacakan
kepada mereka, mereka menyungkur sambil bersujud), (dan mereka berkata: "Maha suci Tuhan kami;sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi") (Dan mereka menyungkur sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk[15])
(Surat al Israa': ayat 107 - 109)
tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang
yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Quran dibacakan
kepada mereka, mereka menyungkur sambil bersujud), (dan mereka berkata: "Maha suci Tuhan kami;sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi") (Dan mereka menyungkur sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk[15])
(Surat al Israa': ayat 107 - 109)
24. Sujud tilawah bila bertemu ayat sajdah.
25. Disahkan dari Umar ra. bahawa ia membaca
surat an Nahl di atas
mimbar pada hari Jumat sampai ketika membaca ayat sujud beliau
turun dan sujud, begitu juga orang-orang yang lain ikut sujud
bersama beliau. Dan ketika datang Jum'at berikutnya ia membaca
surat tersebut dan ketika sampai pada ayat sujud ia berkata,
"Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kita melalui ayat sujud
barangsiapa yang sujud, maka ia telah mendapat pahala, dan
barangsiapa yang tidak sujud, maka tiada dosa baginya." dan
Umar ra. tidak sujud[16]. ( Riwayat Bukhari )
mimbar pada hari Jumat sampai ketika membaca ayat sujud beliau
turun dan sujud, begitu juga orang-orang yang lain ikut sujud
bersama beliau. Dan ketika datang Jum'at berikutnya ia membaca
surat tersebut dan ketika sampai pada ayat sujud ia berkata,
"Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kita melalui ayat sujud
barangsiapa yang sujud, maka ia telah mendapat pahala, dan
barangsiapa yang tidak sujud, maka tiada dosa baginya." dan
Umar ra. tidak sujud[16]. ( Riwayat Bukhari )
26. Suara tidak terlalu keras dan tidak
terlalu pelan.
27. Allah berfirman: (....dan janganlah kamu
mengeraskan suaramu dalam
shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah
di antara keduanya[17]) (surah Al Isra' - ayat 110)
shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah
di antara keduanya[17]) (surah Al Isra' - ayat 110)
28. Dari 'Uqbah bin Amir ra. berakata: Aku
mendengar Rasulullah SAW
bersabda, "Orang yang membaca al-Quran dengan suara keras seperti
orang yang bersedekah secara terang-terangan dan orang yang membaca
al-Quran secara perlahan seperti orang yang bersedekah secara
sembunyi-sembunyi[18]. (Riawayat Abu Daud dan Tirmizi dan An Nasa'i)
(Tirmizi berkata: Hadis ini hasan)
bersabda, "Orang yang membaca al-Quran dengan suara keras seperti
orang yang bersedekah secara terang-terangan dan orang yang membaca
al-Quran secara perlahan seperti orang yang bersedekah secara
sembunyi-sembunyi[18]. (Riawayat Abu Daud dan Tirmizi dan An Nasa'i)
(Tirmizi berkata: Hadis ini hasan)
29. Menghindari tawa, canda dan bicara saat
membaca.
30. Allah berfirman: (Dan apabila dibacakan al-Quran,
maka
dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu
mendapat rahmat[19]) (Surah Al A'raaf - ayat 204)
dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu
mendapat rahmat[19]) (Surah Al A'raaf - ayat 204)
31. Apabila al-Quran sudah dibacakan dengan
bacaan (qiraat) tertentu, maka
etisnya supaya megikuti bacaan tersebut selama masih dalam satu majlis.
32. Memperbanyak membaca al-Quran dan
mengkhatamkannya (menamatkannya)
33. Dari Abdullah bin 'Amr berkata:
Rasulullah SAW bersabda, "Bacalah
al-Quran dalam waktu satu bulan", Aku menjawab, "Saya mampu,"
Rasulullah SAW bersabda, "Bacalah ia dalam waktu sepuluh hari",
Aku menjawab, "Saya mampu." Rasulullah SAW bersabda lagi,
"Bacalah ia dalam waktu tujuh hari dan jangan lebih dari itu[20]." (Riwayat Bukhari dan Muslim)
al-Quran dalam waktu satu bulan", Aku menjawab, "Saya mampu,"
Rasulullah SAW bersabda, "Bacalah ia dalam waktu sepuluh hari",
Aku menjawab, "Saya mampu." Rasulullah SAW bersabda lagi,
"Bacalah ia dalam waktu tujuh hari dan jangan lebih dari itu[20]." (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Pendapat para ulama tentang mengeraskan suara
ketika membaca al-Quran. Ada
beberapa hadits yang memerintahkan untuk mengeraskan suara ketika membaca
al-Quran dan ada hadits yang memerintahkan untuk membaca dengan lirih.
Diantaranya adalah hadis shahih Bukhori Muslim “Allah tidak mengizinkan untuk
suatu hal seperti Dia mengizinkan kepada seorang nabi yang bagus suaranya untuk
menyanyikan al-Quran dengan suara keras”. Sedangkan hadis yang diriwayatkan
oleh Abu Daud, Turmidzi dan Nasa’I “orang yang membaca al-Quran dengan keras
seperti orang yang terang-terangan dalam bersedekah, dan orang yang membaca
al-Quran dengan lirih seperti orang yang merahasiakan sedekah”.
An-Nawawi berkata “Pengumpulan dari dua
hadits ini adalah membaca al-Quran lebih lirih adalah lebih baik, jika
ditakutkan adanya riya’ atau sombong. Membaca dengan sura keras adalah lebih
baik pada waktu tertentu. Karena perbuatan untuk mengeraskan memperbanyak amal,
karena faidahnya akan melimpah pada para pendengar, membangunkan hati pembaca
itu sendiri, menghilangkan rasa kantu dan menambah semangat. Pengumpulan
seperti ini dikuatkan oleh hadits Abu Daud dengan sanad yang sahih dari Abu
Said, Rasulullah SAW beriktikaf di dalam masjid maka beliau mendengar para
sahabat membaca al-Quran dengan keras, maka beliau membuka takbir dan berkata
“Ingatlah kalian bahwa semua ini sedsang bermunajad kepada Tuhan kalian. Maka
janganlah kalian saling mengganggu dan janganlah saling meninggikan suara untuk
membaca[21].”
Sebagian dari mereka berkata disunahkan untuk membaca dengan keras pada suatu
waktu dan membaca dengan lirih di waktu yang lain.
Perbandingan
antara membaca dari mushaf dan dari hafalan. Membaca dari mushaf itu adalah
lebih baik daripada membaca dari hafalan karena dari melihat dari mushaf itu
adalah ibadah yang diperintahkan. An Nawawi berkata “Demikianlah yang dikatakan
oleh sahabat-sahabat kami dan para ulama salaf dan aku tidak melihat adanya
perbedaan pendapat[22].”
Dia berkata jika dikatakan bahwa hal itu berbeda-berbeda dari orang yang satu
dan yang lainnya maka dipilihlah membaca dari mushaf jika seorang itu bisa
khusuk dan merenungkannya pada saat dia membaca dari mushaf dan dari
hafalannya.
Perselisihan
ulama tentang lebih utama membaca sedikit dengan tertil atau membaca dengan
cepat dan banyak. Telah berbuat baik sebagian dari imam kita mereka berkata:
sesungguhnya membaca al-Quran dengan tartil itu pahalanya lebih banyak, pahala
dan banyak itu lebih banyak jumlahnya karena dalam setiap huruf itu terkandung
sepuluh kebaikan. Di dalam Burhad az Zarkasi: “Kesempurnaan tartil adalah
dengan membaca tafhim pada lafadz-lafadznya dan membaca jelas huruf-hurufnya
agar setiap huruf tidak dimasukkan kedalam huruf yang lainnya[23].”
Hal-hal yang
dimakruhkan dan tidak diperbolehkan ketika membaca al-Quran antara lain:
1.
Tidak
boleh membaca al-Quran dengan bahasa ‘ajam (selain bahasa Arab) secara mutlak
baik dia mampu berbahasa Arab atau tidak, baik di waktu sholat atau di luar
sholat.
2.
Tidak
diperbolehkan membaca al-Quran dengan qiro’ah yang syad. Ibnu Abdil Barr
meriwayatkan ijma’ tentang hai itu tetapi Mauhub al-Jazari membolehkan pada
selain shalat, mengkiaskan riwayat hadits dengan makna.
3.
Dimakruhkan
untuk menjadikan al-Quran itu sumber rizki (ma’isyah) al-Ajuzi meriwayatkan sebuah
hadits dari Imron bin Husain secara marfu’ “barang siapa membaca al-Quran maka
hendaklah dia minta kepada Allah dengannya. Sesungguhnya akan datang suatu kaum
yang membaca al-Quran dan meminta kepada manusia dengannya.
4.
Dimakruhkan
untuk mengatakan “aku lupa ayat ini” tetapi aku dilupakan tentang ayat ini”
karena ada hadits dari Bukhari Muslim yang melarang tentang hal itu.
5.
Dimakruhkan
untuk memotong bacaan, untuk berbicara dengan orang lain. Al-Halimi berkata
“karena kalam Allah itu tidak boleh dikalahkan oleh pembicaraan yang lainnya.”
Ini dikuatkan oleh Imam Baehaki dengan riwayat yang sahih “Ibnu Umar jika
membaca al-Quran dia tidak berbicara sampai selesai[24].”
Demikian juga makruh untuk tertawa dan melakukan perbuatan atau memandang
hal-hal yang remeh dan sia-sia.
BAB
III
PENUTUP
A. Simpulan
Para
Ulama bersepakat mengenai beberapa adab atau etika dalam membaca kitab
al-Quran. Di dalam al-Quran surat al
A'raaf ayat 204, Allah berfirman “…
dan apabila dibacakan al-Quran,
maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat
rahmat.” Jadi, ketika membaca al-Quran harus dengan adab agar
mendatangkan rahmat dari Allah. Adab-adab yang dimaksudkan antara lain:
1.
Membersihkan
mulut dengan bersiwak sebelum membaca al-Quran;
2.
Membaca
al-Quran di tempat yang bersih seperti masjid, dan sebagainya;
3.
Menghadap
kiblat;
4.
Membaca
ta'awudz (A'udzu billahi
minas-syaithonirrajiim) ketika mulai;
5.
Membaca
basmalah (Bismillahirrahmaanirrahiim)
di permulaan tiap surat kecuali surat at
Taubah;
6.
Khusu'
dan teliti pada setiap ayat yang dibaca;
7.
Memperindah,
melagukan dan memerdukan suara dalam membaca al-Quran;
8.
Pelan
dan tidak tergesa-gesa dalam membaca al-Quran;
9.
Memperhatikan
bacaan (yang panjang dipanjangkan dan yang pendek
dipendekkan);
dipendekkan);
10. Berhenti untuk berdoa ketika membaca
ayat rahmat dan ayat azab;
11. Menangis, sedih dan terharu ketika
membaca al-Quran;
12. Sujud tilawah bila bertemu ayat sajdah;
13. Suara tidak terlalu keras dan tidak
terlalu pelan;
14. Menghindari tawa, canda dan bicara saat
membaca; dan
15. Memperbanyak membaca al-Quran dan
mengkhatamkannya (menamatkannya).
B. Saran-saran
Berdasarkan
kesimpulan di atas, penulis dapat mengemukakan saran-saran khususnya kepada
penulis dan kepada seluruh pembaca al-Quran secara umum untuk lebih mengedepankan
adab atau etika dalam membaca al-Quran, karena al-Quran merupakan wahyu Allah
yang diturunkan sebagai pedoman hidup manusia di dunia dan akhirat sekaligus
untuk mendapatkan rahmat Allah.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Humsi, Muhammad Hasan. 1999. Tafsir wa Bayan Mufradat al-Quran ‘Ala
Mishaf al Tajwi. Muassasah al Iman: Bairut.
Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Zakaria.
Himpunan Kitab Fadilah A’mal. Bandung:
Pustaka Ramdhan.
[1] Maulana Muhammad
Zakariyya al kandahlawi. Himpunan Kitab
fadilah A’mal, (Bandung:Pustaka Ramadhan, tanpa tahun), hlm 6-7.
[2] Maulana Muhammad
Zakariyya al kandahlawi. Himpunan Kitab
fadilah A’mal, (Bandung:Pustaka Ramadhan, tanpa tahun), hlm 7
[3] Ibid.
[4] Ibid.
[5] QS. Al-A’raaf: 204.
[6] QS. Muhammad: 24.
[7] QS. Shaad: 29.
[8] QS. Al-Muzzammil: 4.
[9] Al-Bukhari,
[10] Riwayat Bukhari dan
Muslim,
[11] Riwayat Bukhari
[12] Riwayat Abu Daud,
Tirmizi, Nasai'e,
[13] Riwayat Muslim,
[14] QS Al Maidah: 83
[15] QS al Israa': 107 -
109
[16] Riwayat Bukhari,
[17] QS Al Isra': 110
[18] Riwayat Abu Daud,
Tirmizi, Nasai'e,
[19] QS Al A'raaf: 204
[20] Riwayat Bukhari dan
Muslim,
[21] Riwayat Abu Daud,
[22] Riwayat an-Nawawi,
[23] Az-Zarkasi, dalam Burhad.
[24] Riwayat Imam Baehaki,
TRIMAKASIH
BalasHapusTetap semangat untuk ilmu
BalasHapus